Rabu, 14 Januari 2015

PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA KURIKULUM PENDIDIKAN


PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan hal yang sangat dibutuhkan untuk membangun dan memajukan suatu negara. Dengan memiliki pendidikan yang baik seseorang akan mampu memajukan bangsanya. Sebagai contoh, jika sekelompok orang memiliki pendidikan dan pemahaman yang baik tentang fisika, maka mereka dapat membangun dan memajukan negaranya dengan teknologi yang mereka ciptakan di bidang fisika.

Dalam upaya membangun dan memajukan negara, sistem pendidikan yang digunakan harus sesuai dengan tujuan dan fungsi negara. Jika sistem yang digunakan tepat serta sesuai maka akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang dapat memajukan dan mengembangkan negara dengan baik.
Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan masyarakat agar mampu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Manh Esa, berakhlak mulia, sehat, kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab serta mampu memajukan bangsa ini. Berdasarkan tujuan tersebut pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.
Sistem pendidikan di  Indonesia cenderung berorientasi pada aspek afektif dan mengabaikan aspek kognitif. Sistem seperti ini telah menghasilkan maysarakat yang memiliki tingkat intelektual tinggi, namun memiliki sikap dan moral yang sangat rendah dan terus menerus turun. Sebagai contoh, banyak mahasiswa yang berintelek menjadi anggota dewan, namun ketika telah mendapat jabatan mereka melakukan tindakan korupsi. Tawuran antara sekolah berprestasi SMA 6 dan SMA 70 Jakarta membuktikan bahwa aspek kognitif telah diabaikan, meskipun kedua sekolah tersebut memiliki berbagai prestasi di bidang akademik.
Secara umum tingkat kemerosotan moral terjadi pada siswa di sekolah menengah atas. Hal itu terjadi karena di usia tersebut mereka memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, senang mencoba-coba, berani, serta penuh semangat namun tidak terarah dengan baik. Moral yang telah merosot ditandai dengan berbagai perbuatan buruk yang mereka lakukan seperti merokok, meminum minuman keras, seks bebas bahkan menggunakan narkoba. Salah satu contoh adalah sekelompok siswa-siswi SMA di daerah Yogyakarta yang terbukti menggunakan miras dan narkoba yang kemudian mereka tuntaskan dengan melakukan seks bebas.
Terdapat suatu upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kemerosotan moral dan sikap masyarakat di masa yang akan datang. Upaya tersebut adalah dengan melaksanakan program pendidikan karakter. Pendidikan karakter diharapkan mampu memperbaiki moral dan sikap masyarakat serta mampu memajukan bangsa ini. Dengan memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum pendidikan, sistem pendidikan akan menjadi seimbang demi meningkatkan mutu masyarakat di bidang intelektual dan perkembangan moral masyarakat.
PENGERTIAN PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk memperbaiki diri baik dari segi akademik maupun non akademik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku sesorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Berdasarkan UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yand diperlukan baik bagi diri sendiri, masyarakat maupun bangsa.
Karakter adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti. Karakter dapat diartikan sebagai tabiat yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan dan juga berhubungan dengan Tuhan. Chrisiana (2005) mengatakan bahwa, “character determines somone’s private thoughts and someone’s action done. Good character is the inward motivation to do what is right, according to the highest standard of behaviorin every situation”. Dalam konteks ini, karakter dapat diartikan sebagai identitas diri seseorang. Suyanto (2009) menyatakan, “karakter adalah cara berpikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara”. Karakter merupakan sesuatu yang berkaitan dengan kebiasaan hidup individu yang bersifat menetap dan cenderung positif (Pritchard,1988: 467).
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan saat ini terdapat dua teori mengenai kemunculan karakter. Teori pertama menyatakan bahwa karakter seperti gen, yang telah ada sejak lahir contohnya warna rambut dan golongan darah. Jika seseorang memiliki sifat pemarah, berarti orang tersebut sudah memiliki sifat pemarah sejak dilahirkan. Teori kedua menyatakan bahwa karakter seseorang dipengaruhi oleh lingkungan. Jika ia hidup di lingkungan yang baik, maka ia juga memiliki karakter yang baik, sebaliknya jika hidup di lingkungan buruk maka akan terbentuk karakter yang buruk pula.
Pendidikan karakter juga memiliki beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli. Dr. Ratna Megawangi (2007) mengatakan bahwa pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, dan berprilaku baik. Yakni, suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi kebiasaan pikiran, hati dan tangan. Menurut Thomas Lickona (1991), pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya.
Pendidikan karakter harus diterapkan sejak manusia lahir hingga meninggal. Dengan membiasakan hal-hal yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari sejak masih kecil akan berdampak pada kebiasaan hidup dengan baik hingga akhir hayat. Bahkan bayi yang baru lahir, apabila mendapat lingkungan yang lembut dari orangtuanya maka ia juga akan belajar berprilaku lembut pula. Ketika mendegar panggilan lembut dari orangtuanya seperti ibu, ayah, mama, papa atau hal lain mereka juga belajar menyebut hal itu pula. Ketika seorang bayi yang berkembang dalam lingkungan yang kasar dan tumbuh hingga dewasa, ia cenderung juga akan memiliki sikap yang kasar, menyebut kata-kata kotor, durhaka, mudah melakukan tindakan kriminal dan hal buruk lain. Hal itulah yang menjadi alasan mengapa pendidikan karakter harus diterapkan sejak dini.
ASPEK KOGNITIF YANG DIABAIKAN
Sistem pendidikan di Indonesia masih mementingkan kecerdasan yang bersifat afektif dan mengabaikan kecerdasan yang bersifat kognitif. Hal itu telah dibuktikan dengan kesibukan para pelajar dengan berbagai ujian, mulai dari ujian mid semester, ujian akhir, ujian sekolah dan ujian nasional. Selain itu, mereka juga disibukkan dengan tugas-tugas sekolah dan bimbingan belajar di luar sekolah. Kesibukan dan tugas yang mereka miliki cenderung tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari sehingga tidak memberikan pengaruh yang baik dalam pembentukan karakter siswa.
Aspek kognitif dalam pendidikan yang terus diabaikan sangat mempengaruhi sikap dan moral masyarakat. Pelajar yang lebih mementingkan nilai dibandingkan sikap sering menghalalkan segala cara untuk memperoleh nilai tersebut. Mereka dapat bebas mencontek saat ujian, bekerjasama dan lain-lain. Hal ini juga didukung oleh oknum guru dan pegawai sekolah yang mendukung perbuatan mereka. Sebagai contoh, pada saat pelaksanaan Ujian Nasional, seorang Kepala sekolah SMA di Pontianak dengan sengaja menyuruh perserta ujian untuk melakukan kecurangan saat ujian. Perbuatan demikian semakin menunjukkan moral bangsa yang telah merosot akibat aspek kognitif yang terus diabaikan.
Pendidikan karakter yang dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dapat mengubah tatanan sistem pendidikan itu sendiri. Sistem yang semula hanya berfokus pada aspek afektif dan menghalalkan segala cara dalam memperoleh hasil akan mengalami perubahan. Aspek kognitif berupa sikap, moral, akhlak, dan budi pekerti menjadi sangat diperhatikan. Oknum guru dan pegawai sekolah mulai beradaptasi dan segera membenahi diri sendiri dan sistem di sekolah mereka, agar menghasilkan generasi penerus bangsa yang baik. Mereka harus menjadi teladan yang baik yang menopang keberhasilan pendidikan karakter ini dalam sistem pendidikan.
KONSEP DAN PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah harus berlandaskan pada nilai-nilai karakter dasar, kemudian dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.
Dalam pendidikan karakter, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri,  yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ekstrakurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Selain itu, pendidikan karakter diartikan sebagai prilaku warga sekolah yang berkarakter ketika menjalankan pendidikan karakter ini.
Dalam menyampaiakan materi pembelajaran guru harus memahami terlebih dahulu mengenai pendidikan karakter. Setelah memahami dengan baik, mereka akan dapat memberi contoh terdepan dalam pendidikan karakter. Ketika sekolah mulai menerapkan dan melaksanakan nilai-nilai atau karakter tertentu pada siswa, maka setiap nilai tersebut harus senantiasa disampaikan oleh guru yang melalui pembelajaran langsung atau disatukan ke dalam setiap mata pelajaran. Sebagai contoh, seorang guru  biologi yang menyampaikan materi asal usul makhluk hidup, maka ia dapat menyebutkan asal usul manusia dari Adam dan menyebutkan keberadaan Tuhan. Dengan demikian pendidikan karakter akan berjalan beriringan dengan pendidikan umum yang lain.
Materi pelajaran yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan tujuan dari pendidikan karakter. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah waktu pembelajaran pada pelajaran pendidikan agama dan pendidikan kewarganeagaraan. Selain itu, materi yang bersifat alamiah seperti fisika, kimia, dan biologi juga dapat disisipkan pendidikan karakter ketika pembelajaran. Seperti memberikan sebuah contoh kerja keras yang dilakukan Thomas Alfa Edison dalam menemukan bola pijar atau lampu.
Seorang guru harus kreatif dan inovatif dalam menyampaiakan materi pembelajaran. Hal ini akan membuat siswa lebih senang dalam belajar karena mendapat suasana belajar yang sesuai dan menyenangkan. Para siswa yang selama ini bosan dalam belajar akan merubah paradigma mereka ketika belajar dengan kerativitas yang diberikan oleh guru.
Nilai-nilai karakter yang disampaikan oleh guru kepada para siswa juga harus diterapkan secara teratur dan berkelanjutan oleh semua warga sekolah. Mulai dari petugas keamanan, penjaga parkir, petugas kebersihan, karyawan administrasi, hingga kepala sekolah. Jika telah diterapkan oleh semua warga sekolah dengan baik, maka pendidikan karakter yang dilakukan akan menunjukkan hasil yang cukup baik.
Berikut ini adalah nilai-nilai karakter dasar dan pengertian nilai-nilai tersebut:
No
Nilai Karakter
Pengertian
1
ReligiusSikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2
JujurPerilaku yang berlandaskan pada upaya seseorang untuk  menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan perbuatan.
3
ToleransiSikap dan tindakan seseorang untuk menghargai perbedaan dengan  orang lain dalam hal  agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan perbuatan.
4
DisiplinTindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan
patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5
Kerja kerasPerilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan baik.
6
KreatifBerpikir untuk menghasilkan suatu cara yang baru dan melakukan sesuatu demi mendapatkan hasil yang baru dari sesuatu yang telah dimiliki
7
MandiriSikap dan perilaku  sesorang yang tidak mudah bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan masalah
8
DemokratisCara berpikir dan bertindak dengan menilai kesamaan hak dan kewajiban yang dimiliki diri sendiri dan orang lain.
9
Rasa Inging TahuSikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam mengenai sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.
10
Semangat KebangsaanCara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompok.
11
Cinta Tanah AirCara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12
Menghargai PrestasiSikap dan tindakan yang mendorong seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.
13
Bersahabat/komunikatifTindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14
Cinta DamaiSikap, perkataan, dan tindakan sesorang yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas keberadaan orang tersebut.
15
Gemar MembacaKebiasaan sesorang dalam menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan dampak positif bagi hidupnya.
16
Peduli LingkunganSikap dan tindakan seseorang yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan berbagai upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi
17
Peduli SosialSikap dan tindakan sesorang yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18
TanggungjawabSikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
Penataan lingkungan dan kegiatan-kegiatan disekolah dapat menguatkan nilai-nilai karakter yang mulai diterapkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat spanduk yang berisi dukungan agar terbentuk suasana kehidupan sekolah yang berakhlak yang baik. Kegiatan ekstrakurikuler seperti futsal, basket, osis, dan kegiatan lain dapat terus menguatkan nilai kerja sama, saling menyayangi dan menghargai antar sesama siswa. Dengan demikian pendidikan karakter akan terus berlangsung dengan nilai-nilai karakter yang terus menguat.
Peran orang tua, keluarga dan masyarakat dan sekolah sangat menentukan pembentukan pendidikan karakter siswa. Keluarga merupakan media utama dan pertama yang memberikan pengajaran mengenai tingkah laku dan perbuatan. Dalam kehidupan bermasyarakat, siswa SMA juga sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat seperti kerja bakti dan penggalangan dana. Masyarakat juga menjadi kontrol bagi para remaja dalam mengembangkan karakter yang mereka miliki. Ketika mereka melakukan kesalahan, mereka juga akan mendapat hukuman dari masyarakat namun jika berbuat baik akan diberikan penghargaan dari masyarakat. Oleh karena itu, pihak sekolah harus sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat dalam membimbing serta mengembangkan karakter siswa.
Pelaksanaan pendidikan karakter harus terus dibiasakan. Pembiasaan tersebut dapat dilakukan dengan banyak cara dan menyangkut banyak hal seperti disiplin, etika berpakaian dan etika pergaulan baik perlakuan siswa terhadap kepala sekolah, guru, siswa lain, maupun karyawan. Pembiasaan yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru, siswa dan karyawan dalam lingkungan sekolah merupakan cara yang strategis dalam melaksananakan pendidikan karakter di sekolah.
Pendidikan karakter bersumber dari karakter dasar manusia yang merupakan nilai moral dan bersumber dari agama. Menurut beberapa ahli psikolog, beberapa nilai tersebut adalah cinta kepada Tuhan dan ciptaan-Nya, tanggungjawab, jujur, hormat, sopan, kasih sayang, peduli, percaya diri, pantang menyerah, baik, toleransi, cinta damai dan persatuan.
Kebanyakan orang menginginkan pendidikan karakter diterapkan pada lembaga pendidikan formal atau sekolah. Hal ini karena sekolah merupakan wadah pembinaan generasi muda yang diharapkan mampu meningkatkan peran dan membentuk karakter generasi tersebut melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.
Pendapat yang sering digunakan dan merupakan cara yang terbaik untuk melaksanakan pendidikan karakter adalah melalui pendekatan komprehensif dan holistik. Pendekatan ini meliputi dimensi kognitif, emosional, dan prilaku serta melibatkan dan mengintegrasikan hal-hal tersebut ke dalam semua aspek kehidupan di sekolah. Pendekatan ini juga dikatakan sebagai suatu reformasi yang menyeluruh dalam lingkungan sekolah.
Dalam melaksanakan pendidikan karakter dengan pendekatan komprehensif terdapat 11 poin yang harus diperhatikan, yaitu:
  1. Mengembangkan sikap peduli siswa SMA di dalam dan di luar kelas;
  2. Guru berperan sebagai pembimbing (caregiver), model, dan mentor;
  3. Menciptakan komunitas kelas yang peduli;
  4. Memberlakukan ketegasan dan kedisiplinan;
  5. Menciptakan lingkungan kelas yang demokratis;
  6. Mengajarkan karakter melalui kurikulum;
  7. Memberlakukan pembelajaran kooperatif;
  8. Mendorong dilakukannya refleksi moral;
  9. Mengajarkan cara-cara menyelesaikan konflik;
  10. Menjadikan orang tua/wali siswa dan masyarakat sebagai patner dalam pendidikan karakter.
  11. Menciptakan budaya karakter yang baik di sekolah.
MANFAAT PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan karakter merupakan suatu upaya untuk mengatasi moral masyarakat yang terus menurun, terutama para pelajar SMA. Dalam hal ini, pendidikan karakter dapat ditunjukkan oleh seorang guru di sekolah. Mereka harus memperhatikan perkembangan akademik dan moral siswa dengan memberikan pendidikan karakter dengan baik seperti melarang mencontek demi nilai kejujuran. Dalam bertingkah laku, guru juga harus menjadi yang terdepan memberikan contoh bertingkah laku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia siswa secara utuh, terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan siswa mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Sumber :https://rikipd.wordpress.com/2013/07/05/pendidikan-karakter-dalam-kurikulum/

4 komentar:

  1. Very Nice !Please visit my blog and leave a comment : fannydfabian.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Wah artikelnya bagus dan sangat menarik. Dengan begitu, pendidikan karakter yang terus dilaksanakan dapat menunjukkan perilaku berkarakter dalam kehidupan sehari-hari. Makasih banget infonya :)

    BalasHapus
  3. Is it possible to watch a sport like boxing and boxing in a TV in virtual
    If you're not an avid sports fan, you'll probably find one that is pretty close to watching in VR. In this video, youtube playlist to mp3 you can watch a

    BalasHapus